Minggu, 27 Maret 2011

Penulisan Pertama Manusia dan Penderitaan

Penulisan Pertama

Manusia dan Penderitaan


KITA semua tahu apa itu penderitaan. Kita bahkan mengalaminya. Orang biasa bilang bahwa penderitaan itu seperti bayangan yang selalu ada sepanjang badan. Kadang-kadang bayangan itu di belakang kita sehingga kita tidak menyadari keberadaannya. Tetapi sering juga bayangan itu membentang di depan. Penderitaan menjadi sangat jelas dan mencekam.
Penyebab penderitaan juga macam-macam. Ia datang kepada kita dalam bentuk sakit, gagal dalam usaha, diperlakukan secara tidak adil, mengalami duka cita karena kematian orang yang kita kasihi, musibah seperti bencana alam. Singkatnya ada banyak penyebab penderitaan. Apa pun penyebabnya, penderitaan selalu ada. Ia seperti bayang-bayang yang selalu menyertai hidup. Hanya orang yang sudah meninggal saja yang tidak mengenal dan mengalami penderitaan. Atau mungkin juga orang mati menderita. Kita belum tahu itu, karena kita belum mengalami sendiri.


Seperti yang telah kita ketahui bahwa belum lama harga cabe merah meningkat tajam. Pada sejumlah pasar tradisional di Indonesia saat ini berkisar antara 80 ribu hingga seratus ribu Rupiah per kilogram. Kenaikan ini hampir mencapai dua kali lipat lebih, karena sebelumnya harga cabe merah hanya sekitar 45.000 rupiah perkilogram.
Para pedagang mengungkapkan, pasokan cabe merah ke sejumlah pasar tradisional berkurang drastis, akibat gagal panen karena cuaca yang tidak menentu. Akibatnya, harga cabe merah pun meroket. Selain itu, kelangkaan cabe merah di pasaran juga dimanfaatkan para spekulan untuk menimbun komoditi tersebut.
Menurut Lilis, seorang pedagang cabe merah, “Sekarang harganya pada naik, hampir 150 persen. Yang paling tinggi cabe rawit merah, itu harganya 100.000. Itu akibat cuaca. Sekarang cuacanya lagi buruk. Jadi, petani pada gagal (panen).”
Para spekulan diduga bermain di balik meroketnya harga cabe merah.
Pedagang lainnya, Wendi mengatakan, “Permainan distributor saja itu. Gagal panen. Padi, sayuran, semua juga gagal (panen)”.
Sementara itu, naiknya harga cabe merah dikeluhkan oleh masyarakat. Karenanya, masyarakat berharap agar harga cabe merah kembali normal.
Menurut Anah, seorang ibu rumah tangga, “Sangat merepotkan, apalagi rakyat kecil yang tidak punya penghasilan. (Cabe ini) kebutuhan dasar. Kalau daging nomor kesekian. Seringnya (makan dengan) sambal, ikan asin, sambal, ikan asin.”
Sedang konsumen lainnya, Agus mengeluh,  “Berat bagi orang kecil. Harganya tolong diturunkan.”
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, Ferry Sofwan Arif mengungkapkan, tidak seperti pada beras, pemerintah tidak bisa melakukan operasi pasar untuk mengatasi mahalnya harga cabe merah di pasaran. Pasalnya, komoditi cabe merah di hampir seluruh wilayah Indonesia saat ini memang sedang langka dan harganya pun mahal.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Ferry Sofwan Arif menjelaskan, “Kalau beras kita bisa melakukan operasi pasar bekerjasama dengan Bulog.  Kalau cabe kami harus mencari ke mana? Ke Jawa Timur? Jawa Timur pun sama harganya mahal. Di Jawa Timur pun produksinya cuma untuk masyarakat Jawa Timur. Di Jawa Tengah pun sama”.
Ferry menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan cabe merah, pemerintah mengimbau masyarakat untuk mencoba menanam cabe merah sendiri di pekarangan rumah masing-masing. Selain itu, pemerintah juga menyarankan agar masyarakat mengalihkan rasa pedas dari cabe dengan sambal botol buatan pabrik, yang sudah tersedia di pasaran. Dengan demikian, kelangkaan dan kenaikan harga cabe merah tidak perlu membuat masyarakat panik.
Menurut Ferry,  “Mengalihkan rasa pedas yang didapatkan dari cabe belilah sambal botol. Jadi menahan diri untuk tidak membeli (cabe). Ini yang akan menyebabkan para spekulan yang menahan harga cabe mahal atau malah menaikkan (harga) cabe, itu mereka jera. Karena apa? Karena cabe itu tidak bisa disimpan lama”.
Konsumen cabe merah dan cabe rawit terbesar di Indonesia adalah Provinsi Jawa Barat, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur. Produksi cabe merah di masing-masing provinsi saat ini terserap untuk kebutuhan masyarakat di provinsi tersebut.
Menurut saya peningkatan harga cabe yang melambung tinggi ini sangat menambah penderitaan rakyat Indonesia karena taraf hidup yang tidak sesuai dengan pengeluaran yang harus dikeluarkan per orang atau dalam satu keluarga. Dampaknya sangat membuat masyarakat yang sering menggunakan bahan baku ini menjadi harus mengurangi pengeluaran untuk hal yang lain agar dapat membeli cabai dengan harga yang tinggi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar